Agen Perubahan Reformasi Birokrasi, Kinerja Meningkat Integritas Terjaga

Dalam rangka meningkatkan kapasitas agen perubahan di Pemerintah Kabupaten Klungkung, Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Klungkung menyelenggarakan kegiatan pelatihan agen perubahan. Kegiatan dilaksanakan pada 18 Oktober 2019, bertempat di Ruang Praja Mandala Kantor Bupati Klungkung. Sebagai narasumber adalah Kepala Biro Organisasi Sekreatriat Daerah Provinsi Bali. Pelatihan dipimpin oleh Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Klungkung I Wayan Sumarta.
Kepala Biro Organisasi Setda Provinsi Bali memaparkan, ciri dari reformasi birokrasi adalah tata kelola pemerintahan yang baikdan dan pelayanan publik yang berkualitas. Bahwa tugas pemerintah dan pemerintahan itu ada karena memang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.Tata kelola yang baik dan pelayanan kepada masyarakat baik atau tidak diukur dengan nilai/indeks. Nilai atau indeks reformasi birokrasi itu menjadi cerminan kualitas tata kelola dan pelayanan publik. Penilaian yang terarah dan terukur baik untuk personal maupun lembaga.
Sebagai pengungkit, adalah sumber daya manusia. Sehingga dimulai dari pola pikir. Awal sekali masuk dari pola pikir diarahkan pada pencapaian Kinerja, akuntabilitas, dan integritas. Pola pikir menjadi sesuatu yang utama.dicontohkan, dikala seorang ASN tidak memiliki perjanjian kinerja, maka juga menunjukkan tidak adanya pola pikir terhadap pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya.
Pikiran positif menjadi awal Budaya kerja yang baik. Penanaman pola pikir yang baik dimulai dari diri sendiri. Semua pegawai harus mengetahui tentang kinerja, akuntabilitas, serta integritas yang dapat dimulai dengan menciptakan kebiasaan membahas atau berdiskusi tentang berbagai hal berkaitan dengan reformasi birokrasi secara rutin/berkala.
Penilaian yang terarah dan terukur baik untuk personal maupun lembaga.
Komitmen pimpinan menjadi pondasi penting dalam membangun reformasi birokrasi secara maksimal, yang didukung oleh agen perubahan. Pemimpin memberikan contoh perilaku positif dalam pelaksanaan tugas karena akan menjadi panutan bagi seluruh anggota organisasi. Tetapi disisi lain, agen perubahan seharusnya berani mempengaruhi pimpinan dalam kontrol atau koreksi pelaksanaan reformasi birokrasi. Agen perubahan dapat memberikan masukkan terhadap suatu kendala serta menyarankan alternatif solusi untuk perbaikan. Tindakan-tindakan seperti itu berpengaruh terhadap budaya kerja organisasi.
Sangat penting semua komponen dalam organisasi untuk mengetahui area manajemen perubahan reformasi birokrasi. Karena organisasi dapat berhasil apabila didukung setiap komponen. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian pembinaan maupun pemahaman secara rutin tugas pokok dan fungsi terutama dikaitkan dengan penerapan zona integritas.
Budaya organisasi tercermin dari nilai-nilai yang dilaksanakan oleh pegawainya. Sikap dan perilaku adalah cerminan budaya kerja organisasi. Unsur penting pembentuk budaya kerja adalah disiplin, hirarki dan loyalitas. Budaya tercipta dari kebiasaan, kebiasaan muncul dari pelaksanaan peraturan secara disiplin.
Untuk menciptakan kesan pelayanan publik yang baik, figur agen perubahan sebaiknya menjadi barisan terdepan yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Hal itu dibutuhkan karena standar pelayanan publik tidak cukup hanya dengan sosialisasi atau publikasi yang pasif saja, tetapi pelayanan publik itu ditunjukkan dengan bentuk senyum, salam, dan sapa secara langsung. Respon positif organsiasi terhadap kebutuhan masyarakat akan berbanding lurus dengan kepuasan masyarakat. Itulah yang dimaksud dengan cara berkomunikasi yang efektif.
Arahan dilanjutkan oleh Kasubag Peningkatan Kinerja Biro Organisasi Setda Provinsi Bali Ni Gusti Agung Nyoman Adyani Utari yang menjelaskan bahwa agen perubahan adalah individu atau kelompok pegawai yang dipilih untuk menjadi motor reformasi birokrasi. Yang harus diubah adalah pola pikir dan budaya kerja agar kinerja meningkat dan integritas terjaga.
Dalam penerapan reformasi birokrasi, pimpinan dan sekretaris organisasi sangat penting. Agen perubahan menjadi inisiasi program kegiatan yang kreatif, kemudian didukung oleh komitmen pimpinan dalam penerapannya.
Secara teknis, agen perubahan dapat melaksanakan tindakan nyata seperti pembuatan rencana aksi penerapan reformasi birokrasi dengan sasaran yang realistis dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip perencanaan.
Secara berkala, agen perubahan memberikan contoh perilaku sehari-hari. Fungsi agen perubahan berupa menjadi panutan dan menyebarkan nilai-nilai reformasi birokrasi dalam berbagai bentuk. Publikasi informasi RB dibuat secara terstruktur yang telah diketahui dan disetujui oleh atasan seperti pengumuman , poster, infografis, video, dan bentuk lainnya.
Setiap rencana aksi diikuti dengan kegiatan monitoring dan evaluasi. Pencapaian sasaran yang mengalami kendala dicarikan solusi.
Upaya-upaya di atas dilaksanakan untuk mencapai tujuan reformasi birokrasi adalah untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakteristik, berintegrasi, berkinerja tinggi, bebas dan bersih KKN, mampu melayani publik, netral, sejahtera, berdedikasi, dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur negara.(kaw)

Tinggalkan Balasan