E-learning Agen Perubahan: Merubah Cara Pandang, Cara Pikir, dan Cara Kerja

 

Sistem pembelajaran itu merupakan bagian dari pelatihan Revolusi Mental bagi agen perubahan Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Klungkung. Penyelenggara pelatihan adalah Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Klungkung yang bekerjasama dengan Pusat Pelatihan Dan Pengembangan Dan Pemetaan Kompetensi Aparatur Sipil Negara pada Lembaga Administrasi Negara Repbulik Indonesia (LAN RI). Pelatihan itu sendiri diselenggarakan dari 12 – 22 November 2019 yang dibagi menjadi pembelajaran nonklasikal dan klasikal.
Selama ini Lembaga Administrasi Negara, melalui Pusat Pelatihan dan Pengembangan dan Pemetaan Kompetensi Aparatur Sipil Negara hanya menyelenggarakan Pelatihan Revolusi Mental dengan model klasikal. Kemudian dalam perkembangannya dijalankan program pelatihan yang bersifat blended learning, yaitu menggabungkan pembelajaran on-line dan pembelajaran tatap muka di kelas.
Dikutip dari Panduan Elearning LAN RI, disebutkan pembelajaran nonklasikal merupakan pembelajaran yang berbasis elektronik (e-learning). Pendekatan penyelenggaraan berbasis elektronik ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan inovasi dalam pelatihan dan tuntutan perubahan. Tujuannya tentu saja untuk meningkatkan jangkauan pelayanan dan memudahkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki keterbatasan dalam mengikuti pelatihan klasikal yang selama ini berdurasi panjang. Selain itu, kami berharap pendekatan ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pengembangan kompetensi dan mempercepat peningkatan kinerja organisasi.
Pembelajaran nonklasikal ini dilaksanakan melalui website yang telah disediakan. Setiap peserta memiliki akun tersendiri, dan didalamnya ada kewajiban untuk menonton video serta mengerjakan tugas yang dilaksanakan secara bertahap sesuai jadwal. Widyaiswara memberikan pemaparan materi pelatihan melalui video itu untuk membantu peserta dalam menyelesaikan tugas pada setiap sesi pelatihan online.
Setelah menyelesaikan seluruh mata pelatihan yang tersedia, peserta diwajibkan untuk
mengikuti Live Chat dan Forum Diskusi pada setiap mata pelatihan yang dilakukan secara synchronous sesuai jadwal yang telah ditetapkan dan kelompok yang telah ditentukan, kemudian akan dipandu oleh widyaiswara/fasilitator. Dalam Live Chat dan Forum Diskusi ini, Peserta dapat bertanya dan berdiskusi kepada oleh widyaiswara/fasilitator dan peserta pelatihan lain.
Pembelajaran dilanjutkan dengan sistem klasikal yaitu pertemuan tatap muka dimulai pada 20 November 2019, bertempat di Ruang rapat Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Klungkung. Pada kesempatan tersebut hadir Bupati Klungkung, Kepala BKPSDM, serta perwakilan LAN RI. Kepala BKPSDM Kabupaten Klungkung, I Komang Susana menyebutkan bahwa pelatihan ini meningkatkan kompetensi ASN dalam peran sebagai agen perubahan yang diharapkan melaksanakan perubahan yang cepat dalam rangka pelayanan publik lebih berkualitas.
Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta selain membuka acara secara resmi, juga menjadi narasumber. Bahwa tujuan untuk menuju masyarakat adil dan makmur dipandang belum tercapai sehingga perlu dobrakan salah satunya revolusi mental. Kemudian akan timbul pertanyaan siapa yang direvolusi?. Siapa yang akan merevolusi?. Menurutnya, revolusi dimulai dan dilakukan oleh masing-masing diri.
Para peserta agen perubahan menjadi ujung-ujung tombak yang mampu merubah pola pikir berkaitan dengan daya saing daerah. Mengetahui potensi dan permasalahan, menjadi dua hal dasar yang harus diketahui. Potensi Kabupaten Klungkung yaitu sumber daya manusia serta kekayaan alam. Dan permasalahannya berupa birokrasi serta pola pikir masyarakat. Potensi itu untuk dikelola sehingga menghasilkan sesuatu yang maksimal. Sedangkan masalah untuk diselesaikan.
Bupati Klungkung menanamkan nilai-nilai revolusi mental terhadap peserta pelatihan, diantaranya dikaitkan dengan lagu Gema Santi. Dipaparkan bahwa lagu Gema Santi memiliki makna yang harus diteladani. Tersenyum artinya mensyukuri diri sendiri. Saling bergandengan tangan, intinya adalah dalam mengelola Kabupaten Klungkung tidak bisa bekerja sendiri dimana setiap pihak melangkah bersama-sama, menggali potensi diri sendiri untuk memberikan yang terbaik, tetapi tidak perlu menjadi yang terbaik karena satu sama lain saling melengkapi.
Dalam pesannya, Bupati Klungkung memberikan motivasi untuk mendobrak rutinitas, dan selalu merasa tidak puas untuk melakukan yang lebih baik. “Mari kita berubah, mari bersama membuat sejarah buat kita sendiri.” ujar Bupati Klungkung.
Pelatihan revolusi mental untuk agen perubahan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Klungkung ini diisi oleh para widyaisawraa dari LAN RI dengan topik yang berfokus pada pelayanan publik. Diantaranya, paradigma pelayanan publik, kebijakan pelayanan publik, sampai dengan memberikan bimbingan kepada peserta untuk membuat rancangan revolusi cara kerja dalam upaya mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik mengacu pada program pemerintah pusat.
Pada hari terakhir pelatihan, masing-masing peserta mempresentasikan rancangan revolusi cara kerja dihadapan widyaiswara. yang dilanjutkan dengan penutupan kegiatan. Tetapi kelulusan peserta tidak hanya dinilai dari proses pembelajaran nonklasikal dan klasikal saja, melainkan tahap implementasi rancangan revolusi cara kerja itu.
Kompetensi yang diharapkan yaitu adanya kemampuan dalam merubah cara pandang, cara pikir, dan cara kerja dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik. Agen Perubahan dipilih agar dapat memberikan pengaruh positif terhadap lingkungannya. Dalam pembelajaran ini agen perubahan mengikuti agenda Revolusi Cara Pandang yaitu membekali peserta dengan pemahaman terkait kebijakan revolusi mental untuk pelayanan publik dan revolusi budaya pelayanan publik era digital. Agenda Revolusi Cara Pikir yaitu membekali peserta dengan pemahaman terkait inovasi pelayanan sektor publik dan strategi peningkatan kualitas pelayanan publik. Agenda Revolusi Cara Kerja yaitu membekali peserta dengan kemampuan merancang revolusi cara kerja sebagai ouput dari kegiatan ini yang menjadi implementasi nyata. Kepentingannya adalah peningkatan kapasitas ASN dan Non ASN dalam meningkatkan pelayanan publik dengan sasaran peningkatan pelayanan yang berkelanjutan, optimalisasi pelayanan pemerintah, sampai dengan peningkatan daya saing Indonesia dalam berbagai sektor.
Merujuk pada UU No 25 Tahun 2009, pelayanan publik merupakan kewajiban aparatur dalam mendukung pemenuhan kebutuhan masyarakat berupa barang, jasa, maupun administratif. Hak Hak masyarakat masyarakat untuk mendapatkan mendapatkan layanan yang baik dan berkualitas harus disampaikan dengan cara yang disepakati bersama antara penyelanggara layanan (Pemerintah) dan pengguna layanan (masyarakat). pelayanan kepada masyarakat itu berlandaskan asas seperti tidak diskriminatif, responsif, efektif dan efisien, transparandan akuntabel.
Kondisi di atas adalah kondisi idela yang diharapkan dari hasil revolusi mental. Masih ada kesenjangan dengan kondisi saat ini dimana pelayanan publik belum cepat, responsif, transparan maupun akuntabel.
Gugum Gumelar, widyaiswara LAN RI, memaparkan, hakekat pelayanan publik adalah pemberian pelayan prima kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat. Pemberian pelayanan hendaknya menunjukkan sensitivitas dan kemampuan interpersonal untuk menciptakan kepuasan dan loyalitas yang ditentukan oleh keakraban, kehangatan, penghargaan, kedermawanan, kejujuran.
Seperti yang tercantum dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2016 Gerakan Nasional Revolusi Mental, bahwa gerakan tersebut dalam rangka memperbaiki dan membangun karakter bangsa Indonesia yang mengacu pada nilai-nilai bangsa yang bermartabat, modern, maju, makmur, dan sejahtera berdasarkan Pancasila.(kaw)

Tinggalkan komentar