Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pembangunan Manusia BSSN, Agus Prasetyo, mengatakan, BSSN sangat mendukung dan mendorong pembentukan CSIRT di perguruan tinggi. Hal ini disampaikannya ketika menghadiri ACAD-CSIRT Summit 2025 yang difasilitasi langsung Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bekerja sama dengan Academic-CSIRT Indonesia di Auditorium UK Maranatha, Jalan Surya Sumantri Kota Bandung (10/7/2025)
ACAD-CSIRT Summit 2025 diisi diskusi yang menghadirkan berbagai narasumber untuk membahas pembangunan ketahanan siber nasional hingga pembentukan Security Incident Response Team (CSIRT) atau Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) di lingkungan perguruan tinggi.
Agus Prasetyo menyatakan, banyaknya anomali traffic di lingkup pendidikan, khususnya di perguruan tinggi, harus menjadi concern bersama untuk saling berkolaborasi dalam pengelolaan sistem elektronik pengelolaan data. Terlebih, dalam Undang-Undang (UU) Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (PDP) disebutkan beberapa kewajiban perguruan tinggi yang mengelola data mahasiswa maupun penelitian dosen. Di antaranya, menjamin kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan data pribadi, menetapkan kebijakan teknis hingga organisasional perlindungan data, serta mengelola insiden siber secara akuntabel dan terdokumentasi.
“Perguruan tinggi tidak bisa mengelak lagi, dan harus meningkatkan keamanan sibernya, karena data-data seperti riset yang mungkin klasifikasinya cukup rahasia atau terbatas harus mendapatkan perlakuan lebih untuk pengamanannya,” kata Agus Prasetyo.
Sementara itu, Rektor UK Maranatha, Prof Frans Umbu Datta, memastikan kesiapan jajarannya untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran keamanan siber baik di lingkungan kampus maupun masyarakat.Menurut dia, perguruan tinggi yang kini dinaungi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI memiliki posisi yang strategis dari sisi keamanan siber atau cyber security. Pasalnya, banyak hasil penelitian dari para akademisi baik yang dipublikasi maupun yang tidak dipublikasi, tetapi memiliki nilai komersial yang sangat tinggi.
“Biasanya, yang tidak dipublikasi itu penelitian yang berkaitan produk-produk inovasi, dan (produk) yang seperti ini kalau dicuri akan menimbulkan kerugian dari sisi ekonomi,” kata Frans Umbu Datta
Pihaknya mengakui, perguruan tinggi harus bisa memastikan keamanan penyimpanan data yang berkaitan property rights, karena jika dicuri maka tidak hanya kehilangan dalam konteks informasi akademik dan intelektual, tetapi potensi ekonominya pun hilang.